You Are Reading

0

Turunnya Al-Qur'an 2 model: Ibtidaiiyah dan sababiyah

arwa(arif walid) Rabu, 03 November 2010

PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 01 September 2010 06:14
Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
 
Turunnya Al-Qur'an terbagi menjadi 2 macam:

1. Ibtidaiyah, yaitu ayat yang turun tanpa di dahului suatu sebab tertentu dan kebanyakan ayat Al-Qur'an termasuk jenis ini, diantaranya firman Allah 'azza wa jalla
وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ

"Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shalih" (At-Taubah: 75)

Ayat ini turun tanpa sebab untuk menjelaskan keadaan orang-orang munafik.  Adapun yang dikenal selama ini bahwa ayat ini turun sebab Tsa'labah bin Hatib di suatu kisah yang panjang yang disebutkan oleh banyak ahli tafsir juga banyak disebarkan oleh para penceramah, maka anggapan seperti ini adalah lemah dan tidak benar.

2. Sababiyah, yaitu turunnya ayat yang didahului oleh suatu sebab tertentu. Diantara sebab itu adalah:

a) Jawaban Allah 'azza wa jalla terhadap suatu pertanyaan, misalnya
 
يَسْأَلونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

"Mereka bertanya kepadamu tentang Bulan Sabit. Katakanlah: 'Bulan Sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan bagi ibadah haji'" (Al-Baqarah: 189)

b) Sebuah kejadian yang membutuhkan keterangan atau peringatan, contohnya:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ

"Dan apabila kamu tanya mereka niscaya mereka akan menjawab: sesungguhnya kami hanya bersendau gurau dan bermain-main saja" (At-Taubah: 65)

Ayat ini dan setelahnya, turun kepada seorang munafik yang berkata di saat perang Tabuk "Belum pernah kami melihat para ahli baca Al-Qur'an seperti ini, orang-orang yang lebih buncit perutnya, lebih dusta lisannya, dan lebih pengecut dalam peperangan" (mereka maksudkan dengannya Rasulullah saw dan para sahabatnya). Maka berita tersebut sampai kepada Rasulullah saw lalu turunlah ayat ini. Datanglah orang munafik tersebut untuk meminta maaf, maka Rasulullah menjawab:

أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ

"Apakah dengan ayat-ayat Allah dan Rasul-Nya kalian berolok-olok?" (At-Taubah: 65)

c) Suatu perkara realita yang memerlukan penjelasan hukum, contohnya firman Allah 'azza wa jalla

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

"Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya dan mengadukan halnya kepada Allah. Dan Allah mendengar percakapan kalian berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat" (Al-Mujadilah: 1)

Sumber: Ushul Fit Tafsiir, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Edisi Bahasa Indonesia: Bagaimana Kita Memahami Al-Qur'an Penerbit Cahaya Tauhid

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright 2010 arif and walid blogs